MesinPerontok Padi Termasuk Dalam Teknologi - Di tengah zaman yang serba praktis, kami selaku Produsen Selep dan Gilingan pun ikut tergerak untuk mengetengahkan peralatan pertanian yang lebih modern, khususnya di bidang usaha produksi beras; yaitu di aset mesin penggilingan padi dan poles beras. Moderenisasi alat selepan padi di beberapa provinsi dan kota-kota besar seperti Banyakdata yang menyebutkan kapasitas suatu alsintan tinggi. Studi kasus pada alat perontok padi pedal thresher buatan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian yang menurut data dijelaskan kapasitas 100 kg/jam. Namun faktanya, 25 kg/jam saja sulit, dan petani memilih menggunakan manual karena lebih mudah. Prosespenanaman dalam budidaya tanaman sangatlah penting. Proses ini membutuhkan tenaga kerja sekitar 20% dari seluruh kegiatan budidaya. Dulu para petani menggunakan alat tradisional tugal untuk membantu pekerjaannya. Tugal merupakan alat yang paling sederhana dan mudah digunakan. Cara pengoperasiannya digerakkan dengan tangan pekerja. Vay Tiền Nhanh. Dewasa ini pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian tumbuh pesat. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah dengan menggunakan energi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Energi terbarukan yang implementasinya sudah sangat banyak adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS. Pengunaan PLTS sebagai sumber energi alternatif yang digunakan untuk pengerak alat perontok dan pengering padi otomatis. Petani selalu kesulitan saat musim penghujan maupun kemarau kering tiba-tiba dan sinar matahari tidak dapat mencapai intensitas maksimal saat digunakan untuk mengeringkan padi secara konvensional, oleh karena itu alat perontok dan pengeringan padi otomatis tenaga PLTS sebagai alternatif solusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi wawasan dan pengetahuan akan pembuatan dan prinsip kerja dari alat perontok dan pengeringan padi otomatis tenaga PLTS sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan padi secara teknologi, dengan demikian diharapkan masyarakat mendapatkan manfaat lebih cepat dalam pengeringan padi dan menghemat biaya untuk pengeluaran memanen padi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Content may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Bumigora Information Technology BITe Juni 2021, pp. 38-44 ISSN 2685-4066 ◼ DOI Prototype Perancangan dan Implementasi Alat Perontok dan Pengering Padi Otomatis dengan Konsep Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Meningkatkan Produktivitas Hasil PertanianPrototype of Design and Implementation of Automatic Rice Thresher and Dryer with the Concept of Solar Power Generation Technology to Increase Agricultural Productivity Meiyanto Eko Sulistyo1*, Chico Hermanu Brillianto Apribowo2, Feri Adriyanto3 1,2,3 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maretmekosulistyo chico Abstrak – Dewasa ini pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian tumbuh pesat. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah dengan menggunakan energi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Energi terbarukan yang implementasinya sudah sangat banyak adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS. Pengunaan PLTS sebagai sumber energi alternatif yang digunakan untuk pengerak alat perontok dan pengering padi otomatis. Petani selalu kesulitan saat musim penghujan maupun kemarau kering tiba-tiba dan sinar matahari tidak dapat mencapai intensitas maksimal saat digunakan untuk mengeringkan padi secara konvensional, oleh karena itu alat perontok dan pengeringan padi otomatis tenaga PLTS sebagai alternatif solusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi wawasan dan pengetahuan akan pembuatan dan prinsip kerja dari alat perontok dan pengeringan padi otomatis tenaga PLTS sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan padi secara teknologi, dengan demikian diharapkan masyarakat mendapatkan manfaat lebih cepat dalam pengeringan padi dan menghemat biaya untuk pengeluaran memanen padi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Kata Kunci Perontok, pengering, energi terbarukan, PLTS. Abstract – Nowadays the use of technology to increase agricultural output is growing rapidly. One form of utilization is to use renewable energy to increase the productivity of agricultural products. The renewable energy that has been implemented very much is the Solar Power Plant PLTS. The use of PV mini-grid as an alternative energy source, which is used for automatic threshing machines and rice dryers. Farmers always have difficulty during the rainy season or wet dry season and sunlight cannot reach the maximum intensity when it is used to dry rice conventionally, therefore an automatic thresher and rice dryer with PLTS power is an alternative solution. The purpose of this research is to provide practical insight and knowledge on the manufacture and working principles of automatic PLTS-powered rice thresher and dryer as an alternative solution for drying rice technologically, thus it is hoped that the community will benefit in the form of faster drying of rice and saving in expenses. costs to harvest rice, so as to increase the productivity of agricultural products. Keywords thresher, dryer, renewable energy, PLTS. Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 1. Pendahuluan Saat ini Indonesia mengalami anomali akan ketahanan pangan. Hal ini diindikasikan oleh peningkatan impor beras Indonesia yang semula pada tahun 2017 sebesar ton atau senilai US$ menjadi sebesar atau senilai US$ ditahun 2018[1]. Kenaikan impor beras yang cukup signifikan ini merupakan indikator bahwa produksi domestik beras di Indonesia mengalami pernurunan. Penurunan produksi domestik beras ini diakibatkan oleh banyak faktor berantai salah satunya adalah Petani selalu kesulitan saat musim penghujan maupun kemarau basah tiba dan sinar matahari tidak dapat mencapai intensitas yang maksimal saat digunakan untuk proses mengeringkan padi secara konvensional. Proses pengeringan yang masih mengunakan cara konvensional dan kurang optimal inilah salah satu penyebab turunnya hasil pertanian. Sehingga dibutuhkan suatu solusi teknologi tepat guna berupa alat perontok dan pengering padi otomatis yang bisa digunakan tanpa terpengaruh oleh kondisi cuaca nantinya dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian petani. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah banyak ditemukan sumber energi terbarukan sebagai penganti bahan bakar minyak. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS[2][3] yang digunakan untuk sumber energi pengerak. Pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi alternatif sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun khususnya di negara Indonesia, dari pemanfaaatan PLTS untuk sumber energi skala kecil hingga skala besar, mulai dari sumber energi cadangan pada rambu-rambu lalulintas, untuk sumber energi pada kendaraan, pemanfaatan bidang pertanian, dan dll. Hal ini juga didukung dengan besarnya Radiasi matahari di negara Indonesia nilainya relatif tinggi yaitu rata-rata sebesar 4,5 kWh/m2/hari[4]. Selain itu pengunaan Sistem Pengering Tenaga Surya Menggunakan Tipe Greenhouse dengan Kotak Kaca[5], [6] yang produksi pengeringan padinya masih bergantung pada intensitas sinar matahari. Pontensi inilah pengunaan PLTS digunakan untuk memodifikasi mekanisasi pengering padi yang semula mengunakan blower listrik PLN maupun yang konvensional, dengan mengunakan Sistem perontok dan pengering Tenaga Surya menggunakan Tipe Greenhouse dengan Kotak Kaca dan blower yang diharapkan dapat memberikan alternatif solusi yang murah dan ramah lingkungan. Sehingga implementasi alat perontok dan pengering padi otomatis PLTS ini memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Pemanfaatan sistem PLTS sebagai sumber energi listrik telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada mega proyek pembangkit MW setidaknya ada alokasi 10% pembangkit energi baru dan terbarukan yang dibangun oleh pemerintah[7]. Hal ini tentunya membawa angin segar bagi pengiat pembangkit EBT terutama PLTS. Implementasi PLTS telah diterapkan diberbagai bidang tak terkecuali bidang pertanian. Implementasi PLTS di bidang pertanian yang lain digunakan sebagai pengerak Pompa Air Tenaga Surya[8]. Pompa Air Tenaga Surya dengan daya 200 Watt dapat berjalan dan digunakan oleh petani. Kemudian sistem PLTS juga dimanfaatkan untuk pemantau air bersih[9] yang dapat dikontrol mengunakan smartphone. Dari inovasi penelitian dan penelitian sebelumnya sistem PLTS ini perlu dikembangkan sebagai sumber energi penggerak motor perontok padi dan blower pengering padi agar memiliki multi fungsi yang lebih bagi petani. 2. Metode Penelitian Dalam penelitian ini akan dibahas metode perancangan, pembuatan, dan implementasi sistem pengering dan perontok padi. Tahap awal terdiri dari Pengumpulan bahan-bahan referensi, studi literatur dan pengumpulan data. Tahap kedua perancangan dan simulasi sistem. Tahap ketiga pembuatan hardware dan program beserta uji coba. Tahap keempat pemasangan, implementasi, dan pengujian. Tahap kelima Analisa Data, Pelaporan, dan Evaluasi. Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 Gambar 1 Diagram alir penelitian. Studi Literatur Pada tahapan awal ini mengumpulkan data-data referensi yang dibutuhkan berupa artikel-artikel terkait paper atau jurnal, buku, dan informasi lainnya yang membahas dan meneliti tentang 1. Sistem PLTS, 2. Jenis dan spesifikasi blower dan elemen pemanas 3. Perancangan dan pembuatan sistem pengerak dan pengayak 4. Spesifikasi lemari dan sensor kelembaban yang digunakan Identifikasi dan Pengumpulan Data Pada tahap ini dilakukan survei untuk mengidentifikasi permasalahan dan menghimpun data di lapangan di daerah penelitian, desa Karangjoho data yang dihimpun meliputi a. Luas lahan pertanian b. Total hasil panen petani desa karangjoho baik per masa tanam atau total c. Kebutuhan luas lahan pengeringan padi d. Waktu bercocok tanam sampai dengan panen Perancangan dan Simulasi Sistem Tahapan ini berupa peracangan sistem dan simulasi perontok dan pengering padi otomatis tenaga PLTS mengunakan simulasi terlebih dahulu. Membuat model perancangan yang lebih Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 optimal dibandingkan peralatan yang sudah ada di pasaran berdasarkan studi literatur dan pengumpulan data sebelumnnya. Membuat model perancangan yang lebih optimal perontok dan pengering padi otomatis baik dari segi material, desain dan sistem programmnya. Sehingga dihasilkan produk yang siap digunakan oleh masyarakat. Perancangan Hardware dan Software Dalam pembuatan hardware dan program produk perontok dan pengering padi otomatis tenaga PLTS ini menggunakan sensor DHT-11 berbasis mikrokontroler tersusun dari beberapa blok diagram diantaranya, rangkaian catu daya, sistem minimum mikrokontroler, penampil LCD, sensor DHT11, blower dan heater [10]. Adapun bentuk susunan sistem secara keseluruhan ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2 Blok rancangan sistem. Pemasangan dan Implementasi Apabila inovasi produk pengering padi tenaga PLTS ini sudah teruji skala lab kemudian pada tahap ini dilakukan pemasangan dan implementasi di daerah penelitian. Perlu adanya penyuluhan berupa cara mengunakan alat, cara kerja alat dan perawatan inovasi pengering padi otomatis tenaga PLTS. Analisis Data dan Pelaporan Pada tahap ini dilakukan monitoring dan analisa data, untuk dianalisa proses sebelum dan sesudah dipasang peralatan pengering padi otomatis tenaga PLTS. Kemudian tahapan terakhir pelaporan dan evaluasi kegiatan penelitian ini secara keseluruhan. Peran dan Tugas Institusi Mitra Peran dari mitra dalam ini membantu penyuluhan dan membatu memberikan informasi keadaan real di lapangan serta beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat di Desa Karangjoho. Disamping itu mitra dilibatkan penyuluhan berupa cara mengunakan alat, cara kerja alat dan perawatan pengering padi tenaga PLTS. Tugas dari mitra membatu memfasilitasi tempat sosialisasi dan penyuluhan produk pengering padi otomatis tenaga PLTS. Merawat dan menjaga produk alat pengering padi otomatis tenaga PLTS. Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 3. Hasil dan Pembahasan Kondisi Eksisting Tempat Penelitian Mata pencaharian utama penduduk desa Karangjoho adalah Petani, dengan total luas lahan pertaniannya kurang lebih sebesar 25 HA. Petani di desa Karangjoho memanfaatkan Sungai Dekeng, anak Sungai Begawan Solo sebagai sumber utama irigasi lahan pertanian. Sejak 10 tahun terakhir petani di Desa Karangjoho selalu dihadapkan dengan bebagai permasalahan yang menghambat produktivitas pertanian. Secara umum ada beberapa permasalah utama yang dihadapi petani Desa Karangjoho 1. Penggunaan diesel/pompa air dengan BBM yang mahal 2. Hama wereng yang secara sistemik dan periodik menyerang tanaman padi 3. Hama Tikus 4. Kondisi Daun Gading atau daun berwarna kuning tanaman padi 5. Tingkat kesuburan tanah yang kurang Gambar 3 Kondisi tempat penelitian. Pembuatan Prototipe Pengering Berikut perhitungan perancangan 1. Beban yang disuplai 48-100 Volt 120 Watt. Dengan asumsi menyala selama 5 Jam/Hari 2. Total daya per hari = 120 Watt x 5 Jam = 600 Wattjam Wh 3. Perhitungan panel surya beban total/kapasitas 1 panel surya = 600 Wh/150 Wp = 4 buah panel 4. Total Daya = 150 Wp x 5 Jam = 750 Wh 5. Perhitungan Inverter Untuk sistem yang berdiri sendiri, inverter harus cukup besar untuk menangani jumlah Watt yang akan gunakan pada satu waktu. Ukuran inverter harus 25-30% lebih besar dari total watt peralatan. Dalam hal tipe alat adalah motor atau kompresor maka ukuran inverter minimal 3 kali kapasitas peralatan tersebut dan harus ditambahkan ke kapasitas inverter untuk menangani arus gelombang saat memulai. Total kapasistas inverter = 3 x 120 Watt = 360 Watt Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 Gambar 4 Prototype awal pengering. 4. Kesimpulan Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, hasil survei dilapangan untuk menentukan spesifikasi dari sistem PLTS dibutuhkan data beban, jam nyala beban harian, kapasitas panel surya, dan kedalaman irigasi yang dibutuhkan. Kemudian prototype sistem pengering perlu dikembangkan lagi agar memenuhi proses produksi. Dibutuhkan sistem proteksi tambahan agar sistem kontrol aman dari gangguan hubung singkat. Penggunaan teknologi tepat guna harus dapat diterapkan lebih luas lagi, terutama penggunaan teknologi berbasis energi terbarukan, hal ini berguna untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem yang ada. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kelompok Tani Sedyo Mulyo dan Pemerintah Desa Karangjoho, Klaten, Jawa Tengah yang telah melakukan penelitian [1] BPS, “Statistika Indonesia 2019,” Badan Pusat Satistik Indonesia, 2019. [2] I. Rahardjo and I. Fitriana, “Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya,” no. March, pp. 43–52, 2005. [3] I. N. S. Kumara, “Pembangkit Listrik Tenaga Surya Skala Rumah Tangga Urban Dan Ketersediaannya Di Indonesia,” Majalah Ilmiah Teknologi Elektro, vol. 9, no. 1, 2010. [4] M. Bachtiar, “Procedures for designing a solar home system,” Jurnal SMARTek, vol. 4, no. 3, pp. 176–182, 2006, [Online]. Available [5] I. F. Putri, R. Hantoro, and D. D. Risanti, “Studi Eksperimental Sistem Pengering Tenaga Surya Menggunakan Tipe Greenhouse Dengan Kotak Kaca,” Jurnal Teknik ITS, vol. 2, no. 2, pp. B310–B315, 2013, [Online]. Available Jurnal Bumigora Information Technology BITe ◼ ISSN 2685-4066 [6] R. D. . “Studi Eksperimental Sistem PengeringTenaga Matahari Tipe Rumah Kaca dengan Variasi Jarak Cermin dalam Pengeringan,” Jurnal Teknik POMITS, vol. 2, no. 2, pp. 176–181, 2013. [7] I. Jonan, “Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara Persero Tahun 2017 2026,” Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2017. [8] C. Hermanu, B. Apribowo, T. E. S, and M. Anwar, “Prototype Sistem Pompa Air Tenaga Surya Untuk Meningkatkan Produktivitas Hasil Pertanian,” Jurnal Abdimas, vol. 21, no. 2, pp. 97–102, 2017. [9] R. Rachmatika and F. Adriyanto, “Development of realtime, handheld and portable flood distribution and water quality sensor based android smartphone,” AIP Conference Proceedings, vol. 1883, no. September, 2017, doi [10] M. Ardi and H. Amri, “Analisa Rancang Bangun Alat Pengering Pakaian Otomatis,” JEECAE Journal of Electrical, Electronics, Control, and Automotive Engineering, vol. 4, no. 1, pp. 253–256, 2019, doi ... Begitu pula dengan blower. Blower dapat mengeringkan padi dengan jumlah yang banyak namun jumlah blower yang dibutuhkan juga banyak dan listrik yang digunakan juga banyak Sulistyo et al., 2021. Kapasitas Box Drying dilihat dari gambar 2 adalah paling rendah sendiri karena pada box drying ini memiliki kekurangan atau kelemahan pada ketebalan lapisan alat dan juga gabah jika terlaku banyak gabah yang dimasukkan maka kering padi tidak akan merata Arhamsyah et al., 2018. ...Sri Septi Dyah Pratiwi Sudarti SudartiTrapsilo PrihandonoPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme rancangan alat yang digunakan untuk membantu proses pengeringan padi serta mengetahui seberapa besar minat petani terhadap alat pengering padi tenaga surya berbasis IoT. Kegunaan penelitian ini memberi gambaran kepada masyarakat tentang keunggulan dan kelemahan rancangan alat pengering padi serta memberi informasi tentang ketepatan penggunaan sistem pada rancangan bahan pengering padi ini. Materi yang digunakan adalah masing-masing padi dengan kapasitas sekitar berisi 5 kwintal padi dengan mengunakan rancangan bangun menggunakan sistem IoT. Data primer menggunakan kuisioner kepada petani yang mempunyai lahan persawahan di kecamatan Megaluh dan Kecamatan Tembelang kabupaten Jombang masing-masing 10 petani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kasus dan review artikel. Penelitian yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data dalam penelitian ini ditabulasi dengan menggunakan analisa deskriptif dan diuji menggunakan analisa ragam dua arah pola tersarang. Hasil peneletian menunjukan bahwa proses pengeringan padi dengan menggunakan alat IoT berpengaruh sangat nyata P<0,01 terhadap kualitas panen, bobot panen, serta harga jual padi. Performans Rancangan alat dengan menggunakan system IoT lebih baik dibandingkan dengan proses pengeringan padi secara biasa maupun dengan bantuan alat pengering padi lainnya. Daya jual yang didapatkan lebih tinggi menggunakan alat berbasis IoT dari pada padi yang dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau manual. Kata Kunci Petani Padi, Sistem IoT, Panel surya, Padi I Nyoman Satya KumaraIndonesia terletak di daerah katulistiwa sehingga memiliki intensitas penyinaran matahari yang baik sepanjang tahun. Kondisi penyinaran ini potensial untuk digunakan dalam pembangkitan listrik tenaga surya PLTS. Pemanfaatan tenaga matahari untuk pembangkitan listrik sebenarnya sudah dilakukan sejak cukup lama namun aplikasinya masih terbatas pada sistem berdaya kecil atau yang lebih dikenal dengan solar home system SHS. SHS ini biasanya merupakan bantuan pemerintah yang diberikan secara subsidi dan masyarakat pedesaan menggunakannya sebagai sarana penerangan di malam hari untuk mengganti lampu minyak tanah. Dalam konteks ini terlihat bahwa pendekatan yang digunakan bersifat top-down sehingga selama ini perkembangan SHS sangat tergantung pada program pemerintah dan sejauh ini kontribusi energi listrik surya nasional masih sangat kecil. Masyarakat perkotaan merupakan komponen yang cukup besar dalam komposisi populasi Indonesia. Sebenarnya kelompok masyarakat ini hampir semuanya berada dalam jangkauan jaringan listrik PLN namun demikian mereka memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pedesaan dalam pemanfaatan PLTS seperti daya beli, tingkat pendidikan, serta pemahaman tentang lingkungan dan penyelamatannya. Di samping itu, peranan energi listrik dalam kehidupan masyarakat urban sudah sangat melekat sehingga ketidaktersediaan energi tersebut akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan mereka seperti produktifitas dan kenyamanan. Beberapa ciri positif yang dimiliki masyarakat urban ini bisa dijadikan penggerak pemasyarakatan PLTS perkotaan yang bersifat swakarsa dan swakelola. Melalui pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat kota ini diharapkan akan menjadi komponen penting dalam upaya peningkatan kapasitas terpasang PLTS nasional untuk mencapai target sekitar 5% energi listrik terbarukan pada tahun 2025 seperti ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional. Salah satu prasyarat dalam perluasan pemanfaatan PLTS adalah ketersediaan peralatan dan komponen PLTS tersebut. Tulisan ini mencoba untuk meninjau ketersediaan sistem PLTS di Indonesia yang kapasitasnya sesuai dengan kebutuhan rumah tangga di perkotaan. Ketersediaan yang dimaksud meliputi data tentang kapasitas dan vendor dari komponen PLTS. Informasi tentang ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan cepat untuk mengetahui perkembangan PLTS di Indonesia khususnya bagi masyarakat yang tertarik untuk memanfaatkan tenaga matahari sebagai sumber pembangkit listrikPenyediaan ListrikNasional DalamRangka Mengantisipasi Ira FitrianaThe high generating cost of PV power generation makes this technology unattractive compared with the conventional power generation. Based on MARKAL model and the assumption that the investment cost of PV is considered constant of 1,650 US$/kW after the year 2010, PV starts being economically feasible in the same year for rural area in some region in Indonesia. If the investment cost of PV is assumed to being constantly decline in every period, the competitiveness of PV is increasing and it is projected that the installed capacity would be four times as that in the base case in the year 2030. In Java island, PV could competitive againts other power generations because there is a limitation on coal harbor interms of loading capacity in Java. In the year 2030 PV could substitute some Coal Power Plant in some area in sensors to monitor water quality are made of manual sensors, which reported to have good performance. However, the major problems, which manual process to get the data. In addition, the data interpretation takes a long time. Due to these problems, a new approach needs to be introduced into the process to prevent a long data acquisition. Therefore, the SIAGA application was proposed. The application of SIAGA is divided into two main applications which are SIBA Siaga Banjir and SIAB Siaga Air Bersih. We using WiFi system which is located at points along the flow of river.. The result can be monitored in the online application based on smartphone which is divided into the river water quality, potential sources of pollution and flood area. Each WiFi point is completed with the instruments which are divided into the sensors that can do the identification of parameters to determine the water quality such as temperature, pH, water level and turbidity. This instrument completed using GPS Global Positioning System, Full Map menu. The instrument was succesfully monitoredthe flood distribution and water quality in Bengawan Solo Pusat Satistik IndonesiaBPS, "Statistika Indonesia 2019," Badan Pusat Satistik Indonesia, 2019. for designing a solar home systemM BachtiarM. Bachtiar, "Procedures for designing a solar home system," Jurnal SMARTek, vol. 4, no. 3, pp. 176-182, 2006, [Online]. Available Eksperimental Sistem Pengering Tenaga Surya Menggunakan Tipe Greenhouse Dengan Kotak KacaI F PutriR HantoroD D RisantiI. F. Putri, R. Hantoro, and D. D. Risanti, "Studi Eksperimental Sistem Pengering Tenaga Surya Menggunakan Tipe Greenhouse Dengan Kotak Kaca," Jurnal Teknik ITS, vol. 2, no. 2, pp. B310-B315, 2013, [Online]. Available Eksperimental Sistem PengeringTenaga Matahari Tipe Rumah Kaca dengan Variasi Jarak Cermin dalam PengeringanR D N F YayiendraR HantoroR. D.. "Studi Eksperimental Sistem PengeringTenaga Matahari Tipe Rumah Kaca dengan Variasi Jarak Cermin dalam Pengeringan," Jurnal Teknik POMITS, vol. 2, no. 2, pp. 176-181, Usaha Penyedia Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara Persero Tahun 2017 2026I JonanI. Jonan, "Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara Persero Tahun 2017 2026," Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2017. Sistem Pompa Air Tenaga Surya Untuk Meningkatkan Produktivitas Hasil PertanianC HermanuB ApribowoM AnwarC. Hermanu, B. Apribowo, T. E. S, and M. Anwar, "Prototype Sistem Pompa Air Tenaga Surya Untuk Meningkatkan Produktivitas Hasil Pertanian," Jurnal Abdimas, vol. 21, no. 2, pp. 97-102, 2017. Teknologi tepat guna merupakan istilah yang menggambarkan penerapan suatu jenis teknologi yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Karakteristiknya yaitu terdesentralisasi, berskala kecil, hemat energi, dan berkaitan dengan kondisi lokal. Teknologi tersebut dirancang dan diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih mudah sekaligus meningkatkan nilai tepat guna pada umumnya menghubungkan teknologi tradisional dengan teknologi modern. Hal ini dilakukan supaya masyarakat bisa beradaptasi dengan mudah dalam menggunakannya, khususnya teknologi tepat guna di bidang pertanian. Saat ini, petani Indonesia lebih terbiasa menggunakan teknologi tradisional dalam kegiatan perkembangan teknologi yang semakin pesat memaksa petani untuk belajar lebih cepat pula dalam menggunakan teknologi tepat guna yang lebih modern walaupun sosialisasi mengenai teknologi tepat guna belum dilaksanakan secara merata. Selain itu, orang yang tertarik mengembangkan sistem pertanian, baik dari segi pemasaran maupun pengembangan teknologi tepat guna, juga ikut serta dalam modernisasi alat pertanian agar lebih tepat satu pertanian yang banyak digeluti oleh para petani Indonesia adalah pertanian padi. Nah, apa saja teknologi tepat guna yang dibutuhkan oleh petani padi Indonesia saat ini? Yuk, langsung saja simak uraian berikut Tanam PadiPertanian Indonesia yang sangat luas dan beragam bentuk lahannya mengharuskan petani ikut serta dalam menggunakan mesin tanam padi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lahan. Penerapan traktor penanam padi yang berukuran cukup besar dan berat di daerah pertanian yang datar dan luas dapat dilakukan dengan mudah dan teknologi tersebut tidak berguna jika diterapkan di daerah pegunungan dengan kondisi sawah yang umumnya sempit dan bertingkat. Inovasi teknologi tepat guna untuk penanaman padi di wilayah pegunungan harus sesuai dengan kondisi alatnya yaitu dengan ukuran yang lebih ramping dan ringan agar petani tidak mengalami kesulitan dalam memindahkan MembajakSaat ini, sudah ada beragam teknologi atau mesin traktor untuk membajak yang biasa digunakan oleh petani, baik di lahan yang landai maupun lahan pegunungan. Teknologi ini sangat dibutuhkan oleh petani, khususnya petani milenial muda yang identik dengan kemudahan dan pekerjaan ringan. Selain itu, teknologi tersebut bisa mempercepat usaha pertanian padi dibandingkan dengan kegiatan membajak manual mencangkul.Kegiatan membajak yang lebih cepat dan ringan akan membuat petani Indonesia bisa mengerjakan hal-hal produktif lainnya. Dengan begitu, kesejahteraan petani pun ikut naik seiring dengan penambahan juga 4 Produk yang Bisa Dihasilkan Melalui Pemanfaatan Sekam PadiTeknologi Penebar PupukPertanian saat ini lebih akrab dengan penebaran pupuk secara manual. Biasanya, penyebaran pupuk tidak merata dan sering kali hanya mengumpul di satu bagian. Oleh karena itu, penggunaan teknologi penebar pupuk akan sangat membantu petani dalam menyebarkan pupuk lebih cepat dan lebih merata. Hal ini bisa membuat pertumbuhan dan produksi buah pada padi lebih penebaran pupuk yang lebih cepat juga akan menambah produktivitas petani. Namun, teknologi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan petani, baik di lahan pegunungan maupun lahan datar yang luas. Teknologi penebar pupuk yang menggunakan tenaga baterai yang berkapasitas besar juga akan mempercepat kegiatan Pemanen PadiSumber panen padi juga sangat banyak menyita waktu dan tenaga petani sehingga dibutuhkan solusi teknologi pemanenan yang lebih mudah. Teknologi pemanenan padi harvester yang biasanya berbentuk traktor dengan ukuran yang cukup besar, memerlukan pengembangan lebih lanjut agar bisa digunakan secara maksimal juga di lahan akhir dari pemanenan padi yang menggunakan teknologi tersebut sebaiknya berbentuk bulir-bulir padi yang sudah dirontokkan dari batangnya. Dengan begitu, pekerjaan panen menjadi lebih cepat, mudah, dan hemat. Pemanenan secara manual membutuhkan banyak tenaga kerja dan Penggiling Padi SederhanaPadi yang sudah dipanen dan mengering biasanya akan digiling untuk mengupas kulit-kulitnya. Proses penggilingan biasanya menggunakan mesin yang besar dan tertanam pada suatu tempat tertentu. Nah, teknologi penggilingan padi yang lebih sederhana dan lebih irit dibutuhkan oleh petani agar bisa menghemat biaya penggilingan padi dan memproduksi beras yang nyatanya lebih menguntungkan dibandingkan dengan penjualan itu dia teknologi tepat guna yang dibutuhkan oleh petani padi. Tentu teknologi tersebut bisa mempermudah dan mempercepat kegiatan pertanian di Indonesia. Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk mencapai nawacita untuk menjadi lumbung pangan dunia di masa teknologi tersebut sudah cukup menurut Anda? Silahkan tulis pendapat Anda di kolom komentar juga 3 Teknologi Peningkatan Produksi PadiSudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di sini. Teknologi pertanian sangat penting untuk mendukung kemajuan sektor pertanian di era sekarang. Banyak sekali melenial yang mengembangkan inovasi baru mengenai teknologi, terutama teknologi pertanian untuk usahatani padi di Indonesia. Mengenai pengaruh teknologi dalam sektor pertanian sangat besar terutama bagi Indonesia, karena kebanyakan petani di pelosok masih menggunakan cara yang sederhana untuk mengolah padi. Pemerintah harus memantau perkembangan petani Indonesia dan memperkenalkan inovasi baru teknologi pertanian yang semakin berkembang dari masa ke masa. Beras memiliki peranan yang dominan dalam kebutuhan pangan bagi masyarakat di Indonesia dengan tingkat konsumsi tinggi, oleh karena itu teknologi dapat meningkatkan hasil beras yang berkualitas dan harga jual tinggi. Oleh sebab itu dorongan teknologi sangat berpengaruh dalam efisiensi pengolahan beras dengan produksi yang besar. Implementasi untuk strategi peningkatan produktifitas dengan diwujudkan melalui mekanisme Pengolahan Tanaman secara Terpadu PTT. PTT merupakan inovasi baru untuk menuntaskan permasalahan mengenai peningkatan produktivitas padi dan penghasilan patani supaya mewujudkan kesejahteraan petani. Teknologi berperan penting dalam peningkatan produktivitas dan penghasilan petani karena teknologi juga ikut dalam menentukan proses produksi pertanian. Karena masalah utamanya pada pola konsumsi beras yang semakin tinggi sehingga membutuhkan penerapan PTT. Penerapan teknologi PPT pada dasarnya mampu meningkatkan efesiensi teknis upaya mendukung pemuasan kebutuhan beras nasional di Indonesia yang dinilai penting untuk ditinjau lebih lanjut Mira Apriani, Dwi Rachmina & Amzul Rifin, 2018. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Perkembangan dan Peranan Teknologi dalam Efisiensi Pengolahan Usahatani Padi di Indonesia Teknologi pertanian sangat penting untuk mendukung kemajuan sektor pertanian di era sekarang. Banyak sekali melenial yang mengembangkan inovasi baru mengenai teknologi, terutama teknologi pertanian untuk usahatani padi di Indonesia. Mengenai pengaruh teknologi dalam sektor pertanian sangat besar terutama bagi Indonesia, karena kebanyakan petani di pelosok masih menggunakan cara yang sederhana untuk mengolah padi. Pemerintah harus memantau perkembangan petani Indonesia dan memperkenalkan inovasi baru teknologi pertanian yang semakin berkembang dari masa ke masa. Beras memiliki peranan yang dominan dalam kebutuhan pangan bagi masyarakat di Indonesia dengan tingkat konsumsi tinggi, oleh karena itu teknologi dapat meningkatkan hasil beras yang berkualitas dan harga jual tinggi. Oleh sebab itu dorongan teknologi sangat berpengaruh dalam efisiensi pengolahan beras dengan produksi yang besar. Implementasi untuk strategi peningkatan produktifitas dengan diwujudkan melalui mekanisme Pengolahan Tanaman secara Terpadu PTT. PTT merupakan inovasi baru untuk menuntaskan permasalahan mengenai peningkatan produktivitas padi dan penghasilan patani supaya mewujudkan kesejahteraan petani. Teknologi berperan penting dalam peningkatan produktivitas dan penghasilan petani karena teknologi juga ikut dalam menentukan proses produksi pertanian. Karena masalah utamanya pada pola konsumsi beras yang semakin tinggi sehingga membutuhkan penerapan PTT. Penerapan teknologi PPT pada dasarnya mampu meningkatkan efesiensi teknis upaya mendukung pemuasan kebutuhan beras nasional di Indonesia yang dinilai penting untuk ditinjau lebih lanjut Mira Apriani, Dwi Rachmina & Amzul Rifin, 2018. Tabel 1. Tingkat Penerapan Komponen Teknologi PTT Usahatani Padi Sumber Jurnal Agribisnis Indonesia vol 6 No 2, Desember 2018; halaman 121-132 Persentase rata-rata tingkat penerapan komponen Teknologi PTT dapat dilihat dari Tabel 1. Bahwa tingkat penerapan teknologi PTT secara keseluruhan berada di kategori sedang dengan rata-rata sebesar 71,54. Penggunaan benih Varietas Unggul Baru VUB dalam Komponen teknologi PTT dengan rata-rata tingkat penerapannya 85%. Penggunaan benih bermutu, berlabel, dan bersertifikat dengan rata-rata tingkat penerapan 96,83%. Penggunaan pupuk Anorganik dengan rata-rata penerapannya sebesar 86,33%. Lalu untuk penerapan jarak tanam jajar legowo 21 mempunyai rata-rata penerapan paling tinggi yaitu 98,50% karena memiliki tujuan untuk meningkatkan jumlah populasi tanaman dan memaksimalkan penerapan cahaya matahari untuk kebutuhan tanaman, dapat memudahkan dalam penanaman secara praktis. Komponen Teknologi PTT selanjutnya yaitu umur bibit Domestic rice needs will continue to increase, it is estimated that national rice needs in 2035 will reach 36 million tons. Meanwhile, national rice production capacity is experiencing slow growth or tends to be stagnant. So that it needs an increase in productivity or technical efficiency through the Integrated Crop Management ICM model approach. This study aims to analyze the level of rice ICM technology implementationand the factors that influence the level of rice ICM technology implementation and its effect on the technical efficiency of rice farming in Bogor Regency. Determination of the sample using purposive sampling method, a sample of 60 farmers in the District of Cariu, Pamijahan, and Leuwisadeng of Bogor Regency were analyzed using the scoring method, multiple linear regression models, and the stochastic frontier analyze method. The results showed the level of rice ICM technology implementation in Bogor Regency was classified as moderate 71 , 54 percent, while the technology component with the highest level of application was jajar legowo spacing of 21 98 , 50 percent and the lowest was the use of manure 27 percent. Factors that influence the level of rice ICM technology implementation at α level of 5 percent are non-farm income with an estimated value of 3 , 318, intensity of SLPTT and non SLPTT training with an estimated value of 2 , 236, and dummy farmer's employment status with an estimated value of 2 , 127. While the experience factor of farming with an estimated value of 0 , 110 and the duration of formal education of farmers with an estimated value of 0 , 403 has an effect on the level of α of 10 percent. T he level of rice ICM technology implementation with an estimated value of -0 , 0855 and farmer access to obtain credit with an estimated value of -0 , 0348 has an effect on the technical efficiency of rice farming at α level of 1 percent, while the land ownership status with an estimated value is -0 , 2527 at α level of 10 percent. The average level of technical efficiency of rice farming in Bogor Regency is not optimal 67 , 4 percent, this is due to, among others, the application of technological components that are still relatively low or not as recommended by ICM . Therefore, efforts are needed to increase motivation and farmer participation in implementing ICM technology optimally and sustainably to help meet national rice needs. Penerapan teknologi inovasi pertanian berperan dalam meningkatkan produktivitas usaha tani, sehingga berpeluang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, yang salah satunya diindikasikan dari meningkatnya ketahanan pangan rumah tangga ini bertujuan untuk mengindentifikasi inovasi teknologi pertanian yang telah diterapkan di lokasi studi, dan menganalisis hubungannya dengan kondisi ketahanan pangan pada rumah tangga penelitian berupa survei di dua desa di Kabupaten Bogor yang masing-masing memiliki tipe pertanian yang berbeda yaitu lahan kering dan basah sawah, dengan jumlah sampel sebanyak 80 dianalisis dengan uji statistik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani di lahan sawah telah menerapkan inovasi teknologi berupa sistem jajar legowo secara intensif, dan petani di desa berlahan kering cukup intensif dalam menerapkan inovasisistem tumpang sari dan pengolahan hasil pertanian on farm .Penerapan teknologi ini berkorelasi positif dengan kondisi ketahanan pangan rumah tangga petani, yaitu petani yang menerapkan inovasi teknologi lebih intensif memiliki tingkat ketahanan pangan yang lebih baik.

para petani menggunakan perontok padi yang merupakan teknologi